Wakil Bupati Sumba Timur Hadiri Diskusi Belajar Silang Lintas Sektor untuk Ekonomi Restoratif, Pertanian Regeneratif, Ekonomi Kreatif, dan Inovasi Berbasis Agroekologi Bambu Diselenggarakan oleh YBLL

photo author
- Rabu, 29 Oktober 2025
Wakil Bupati Sumba Timur Hadiri Diskusi Belajar Silang Lintas Sektor untuk Ekonomi Restoratif, Pertanian Regeneratif, Ekonomi Kreatif, dan Inovasi Berbasis Agroekologi Bambu Diselenggarakan oleh YBLL

Media Humba - Kegiatan diskusi ini diselenggarakan oleh Yayasan Bambu Lingkungan Lestari (YBLL) dan bertempat di Kampus Bambu Komodo (KBK), Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, Selasa (28/10/2025). Kegiatan ini mempertemukan para pemangku kepentingan lintas sektor—pemerintah daerah, pelaku usaha, akademisi, komunitas, dan mitra pembangunan—untuk membahas peluang dan tantangan penerapan ekonomi restoratif di tingkat kabupaten sebagai strategi peningkatan ekonomi lokal dan kesejahteraan masyarakat, khususnya perempuan dan anak.

Diskusi ini membahas inovasi kebijakan dan program yang mampu memperkuat ekosistem ekonomi restoratif dan ketahanan pangan lokal perempuan dan keluarga, sehingga dapat berjalan efektif di daerah dengan dukungan kolaboratif dari berbagai sektor.

Melalui forum ini, peserta bersama-sama merancang desain strategi dan arah kebijakan nasional, sektoral, dan daerah untuk mengembangkan ekonomi restoratif yang tidak hanya berkontribusi pada peningkatan ekonomi daerah, tetapi juga pada pemulihan lingkungan, penguatan modal sosial, dan pemberdayaan masyarakat—terutama perempuan dan komunitas desa.

Dalam forum tersebut turut hadir sejumlah tokoh penting dan ternama, di antaranya: Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia, Veronica Tan; Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Irens Umar; Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda; dan Gubernur Nusa Tenggara Timur, Melkiades Laka Leka.

Wakil Bupati Sumba Timur, Yonathan Hani, yang hadir sekaligus menjadi pembicara dalam forum tersebut, menegaskan bahwa Kabupaten Sumba Timur merupakan kabupaten terluas di Nusa Tenggara Timur, dengan luas lahan kurang lebih 700.000 meter persegi. Dari jumlah itu, sekitar 400.000 meter persegi merupakan padang sabana yang kerap dianggap sebagai lahan kering, tandus, dan tidak produktif.

 “Bagi kami, sabana adalah tempat kami hidup. Di sabana itulah kami bertahan dengan iklim yang sangat ekstrem sampai hari ini. Ibu-ibu di Sumba Timur adalah kelompok yang paling rentan terhadap perubahan iklim karena bergantung pada dua hal. Pertama, pada ekosistem sabana yang hingga kini belum ditetapkan sebagai salah satu ekosistem esensial di Indonesia. Kedua, ibu-ibu di Kabupaten Sumba Timur bergantung pada tumbuhan dan tanaman yang dijadikan pewarna alami untuk mewarnai setiap tenun ikat yang menghidupi keluarga sekaligus menjadi masa depan anak-anak mereka,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Yon Hani mengajak seluruh peserta yang hadir untuk bergandengan tangan membangun bersama potensi ekonomi restoratif yang ada di NTT.

 “NTT sudah sering dikenal karena hal-hal negatif, tetapi kami percaya ada banyak potensi yang bisa kita bangun bersama. Mari kita munculkan ekonomi restoratif agar alam tidak hanya dieksploitasi, melainkan menjadi ruang tumbuhnya ekonomi restoratif. Kami yakin, suatu saat NTT tidak lagi menjadi ‘Nusa Tinggal Tulang’, tetapi berubah menjadi ‘Nusa Tumbuh Terbaik’,” tegasnya. Adapun output yang diharapakan dalam diskusi ini, yaitu: Pertama, Kebijakan berbasis lapangan untuk pemberdayaan perempuan, ekonomi restoratif, sektor pariwisata kreatif dan penguatan ekonomi daerah/lokal. Kedua, pemetaan potensi ekonomi restoratif dan penguatan ekonomi daerah dalam konteks kolaborasi antar kementerian, Gubernur dan Bupati.

Liputan: Media Humba

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Berita Terkait

Rekomendasi

Terkini

X
Iklan Media Humba