Waingapu- Sumba Timur, Media Humba.com, Kesadaran akan kebersihan dan perlindungan lingkungan masih menjadi persoalan serius baik bagi pemerintah, pihak swasta maupun masyarakat itu sendiri. Sehingga dibutuhkan suatu terobosan dan inovasi yang efektif dan berdampak nyata dalam memerangi persoalan sampah.
Permasalahan tersebut telah mendorong terbentuknya penerapan kebijakan ramah lingkungan di beberapa desa wisata untuk pengelolaan sampah guna mengatasi pencemaran lingkungan sekaligus menciptakan nilai ekonomis bagi masyarakat lokal yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Berdasarkan informasi yang di dapatkan oleh MEDIA HUMBA melalui Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Sumba Timur, Yudi Umbu T. T. Rawambaku., Salah satu Desa yang telah memulai inovasi tersebut adalah Desa Watuhadang dengan mendaur ulang sampah menjadi bahan yang lebih produktif.
Masyarakat Desa telah melaksanakan kegiatan pelatihan pengelolaan sampah selama 3 hari, sejak tanggal 08–10 Desember 2025. Program kolaborasi antara PT. Penjaminan Infrastruktur Indonesia (PII) dan Baitulmaal Muamalat (BMM) ini menjadi langkah nyata dalam meningkatkan kualitas kebersihan serta tata kelola sampah masyarakat, khususnya di kawasan yang sedang berkembang menjadi destinasi wisata.
Pelatihan yang berlangsung selama 3 hari ini, mencakup materi pemilahan sampah, pembuatan eco enzim, kompos organik, pemanfaatan limbah tenun berupa kain perca, serta budidaya magot sebagai solusi pengelolaan sampah organik. Kegiatan ini turut melibatkan pelatih dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Dinas Lingkungan Hidup, serta lembaga perguruan tinggi Universitas Kristen Wira Wacana Sumba, yang memberikan edukasi dan pendampingan teknis kepada masyarakat.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Sumba Timur, Bpk. Marolop Simanjuntak mengatakan bahwa prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan relevan dengan Visi Misi HUMBA Maju dan Berkelanjutan.
Konsep keberlanjutan merupakan konsep yang sederhana namun kompleks, sehingga pengertian keberlajutanpun sangat multidimensi dan multi-interpretasi. Konsep keberlanjutan ini paling tidak mengandung dua dimensi: Pertama adalah dimensi waktu karena keberlanjutan tidak lain menyangkut apa yang akan terjadi dimasa yang akan datang. Kedua adalah dimensi interaksi antara sistem ekonomi dengan sistem sumber daya alam dan lingkungan.
"Pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan yang memenuhi kebutuhan generasi saat ini tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka. Ada dua hal yang secara implisit menjadi perhatian yaitu Pertama, menyangkut pentingnya memperhatikan kendala sumber daya alam dan lingkungan terhadap pola pembangunan dan konsumsi.
Kedua, menyangkut perhatian pada kesejahteraan generasi mendatang," ungkapnya.
Kepala Desa Watuhadang menyambut baik pelaksanaan program ini dan menegaskan bahwa materi pelatihan sangat relevan dengan kondisi desa.
Menurutnya, keterampilan baru ini akan membantu masyarakat mengurangi limbah sekaligus menciptakan manfaat ekonomi dari sektor pertanian dan kerajinan lokal.
"Pengelolaan kain perca dan kompos sangat sesuai, dikarenakan daerah Watuhadang merupakan lingkungan pertanian dan wisata tenun," ujarnya.
Sementara itu, Yudi Umbu T. T. Rawambaku selaku Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Sumba Timur (pendamping kegiatan) menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan tonggak awal penguatan pariwisata berbasis masyarakat (Community Based Tourism).
"Pertama, di Pulau Sumba kegiatan ini merupakan langkah awal bagi Pariwisata Berbasis Masyarakat (CBT) dan tentunya sesuai dengan harapan kepariwisataan daerah Pulau Sumba, khususnya Kabupaten Sumba Timur, yaitu wisata tanpa sampah, narkotika, prostitusi, dan human trafficking. Kita junjung tinggi kearifan lokal, budaya dan tradisi," ungkapnya.
Dukungan keberlanjutan juga datang dari Universitas Kristen Wira Wacana Sumba melalui, Ibu Melycorianda Hubi Ndapamuri, S.P., M.P., menegaskan kesiapan Universitas untuk pendampingan lanjutan.
"Pihak Universitas terbuka bagi desa wisata jika ingin ada pendampingan lanjutan, dikarenakan ini merupakan pengabdian kami sebagai lembaga perguruan tinggi terhadap masyarakat di Sumba," tuturnya.
Kegiatan ini sekaligus mendukung pencapaian SDGs, terutama SDGs poin ke-8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDGs poin ke-11 (Tujuan Pembangunan Berkelanjutan), SDGs poin ke-12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), serta SDGs poin ke-13 (Penanganan Perubahan Iklim) melalui kolaborasi lintas sektor yang mendorong lingkungan bersih, ekonomi masyarakat, dan pariwisata berkelanjutan di Desa Watuhadang.***
Liputan : Media Humba


Berita Terkait
Sumba Timur Berpotensi Ekspor : Sosialisasi Produk Unggulan Untuk Ikut Meningkatkan Ekonomi Global
Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) Bunda PAUD Se-Nusa Tenggara Timur Tahun 2025
Melewati Proses Panjang Akhinya Sumba Timur Siap Menjadi Pusat Industri Udang Terpadu Terbesar Di Kawasan Timur Indonesia.
Kunjungan Kerja Ke Sumba Timur, Menteri KKP RI Wahyu Trenggono Memantau Pembangunan KNMP di Kelurahan Kamalaputi
Dewan Pimpinan Cabang Perkumpulan Laskar Sandelwood Indonesia Sumba Timur Lakukan Parade Seribu Lilin, Pergelaran Doa Bersama Lintas Agama Dan Audisi LSWI Sumba Idol
Ziarah Nasional ke Taman Makam Pahlawan Sebagai Momentum Memperingati Hari Pahlawan Nasional
Bupati Sumba Timur Membuka Kegiatan JAMCAB Gerakan Pramuka Sumba Timur; Tekankan Pentingnya Pendidikan Karakter Sejak Dini
Pemerintah Kabupaten Sumba Timur Audiensi Bersama Tim Koordinasi Program TEKAD
Kunjungan Kerja Wakil Menteri ESDM di Sumba Timur dalam Rangka Memperkuat Pelaksanaan PSN di Sektor Energi
Aksi Damai di Kantor ATR/BPN Sumba Timur Terkait Peninjauan Tanah di Malai Kababa